Sedia Payung Sebelum Hujan

Sedia Payung Sebelum Hujan

BPBD Wonogiri gelar Bintek bagi relawan DESTANA di Desa Pidekso

OLEH Pidekso-WONOGIRI · DIPUBLIKASIKAN 17 Oktober 2019 · DI UPDATE 17 Oktober 2019

Pidekso-wonogiri.desa.id – Desa Pidekso Kecamatan Giriwoyo merupakan salah satu desa yang memiliki potensi rawan mengalami bencana, terutama tanah banjir dan tanah longsor. Hal ini terjadi karena kondisi Geologi dan topografi Desa Pidekso yang memiliki dataran tinggi, pegunungan tanah dan bebatuan. Musim penghujan Nopember tahun lalu Desa Pidekso dilanda bencana tanah longsor di 2 dusun Cantel dan Langkeyan. Untuk menghadapi ancaman terjadinya bencana kembali, Desa pidekso membentuk tim relawan yang tergabung dalam Destana (Desa Tangguh Bencana) untuk mengantisipasi apabila terjadi bencana Desa Pidekso sudah siap untuk melakukan tindakan yang evakuasi terhadap korban,pepatah mengatakan  “Sedia Payung Sebelum Hujan”.

Bapak H Sariman.S.Sos MM selaku Camat Giriwoyo, Kamis (17/10) (Dokumen desa.id – Foto : Hari)

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri memfasilitasi pembentukan relawan Destana tersebut dengan menggelar pelatihan kebencanaan di Pendodo Balai Desa Pidekso, Kamis (17/10/2019). “Pembentukan Relawan Destana merupakan salah satu bentuk kesiapsiagaan desa dalam menghadapi ancaman bencana yang mungkin terjadi,” kata bapak H.Sariman S.Sos MM selaku  Camat Giriwoyo,  saat membuka pelatihan Destana.

Ia menambahkan bahwa pelatihan Desa Tangguh Bencana (Destana) akan dilaksanakan  satu hari penuh mulai jam 09.00 WIB s/d 15.00 WIB.

Relawan Desa Pidekso ikuti pelatihan kebencanaan yang digelar BPBD Wonogiri di Pendopo Balai Desa Pidekso, Kamis (17/10) (Dokumen desa.id – Foto : Hari)

Pada pelatihan  ini, Anisah  dari Kasi Kesiap siagaan BPBD Kab.Wonogiri  memberikan materi Manfaat terbentuknya Destana tingkat desa dan  Pelatihan Evakuasi Korban Bencana . Hal ini berkaitan dengan penanganan korban longsor, baik yang selamat, mengalami luka ringan sampai berat, bahkan korban yang meninggal dunia. Selain itu juga disampaikan beberapa langkah yang perlu dilakukan dan diedukasikan kepada masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana longsor, diantaranya :

  1. Pembuatan Saluran Drainase secara benar, agar jalur air tidak menabrak tebing/batuan (tidak menggerus lapisan tanah di bawahnya).
  2. Membuat Talud penahan air dari karung bekas yang diisi tanah.
  3. Membuat data base yang berisi jumlah KK dan denah lokasi di masing – masing rumah tinggal.
  4. Memberikan edukasi kepada penghuni rumah agar berkumpul dalam 1 titik di dalam rumah untuk mempermudah proses evakuasi bila terjadi bencana).
  5. Menghimbau warga agar mengungsi ke tempat yang aman jika terjadi ancaman yang potensial menyebabkan bencana (misalnya hujan deras yang terjadi berhari – hari).

Ibu Anisyah Kasi kesiap siagaaan BPBD Kab Wonogiri (Dokumen desa.id – Foto : Hari)

Dalam proses evakuasi korban longsor, yang perlu dilakukan pertama kali adalah mendeteksi kondisi korban. Pelabelan korban juga bisa membantu proses evakuasi karena mempercepat pengambilan keputusan korban manakah yang akan ditolong terlebih dahulu. Pemberian label kepada korban meliputi :

  1. Korban tidak bergerak, tidak bersuara dan tidak merespon. Diberikan label warna Hitam dengan indikasi korban sudah meninggal dunia.
  2. Korban tidak bergerak, dipanggil tidak menjawab tetapi masih memberikan sedikit respon bila disentuh. Korban diberi label warna Merah, dengan indikasi korban mengalami luka berat.
  3. Korban tidak bergerak namun memberikan respon yang reaktif/ berteriak histeris, diberikan label warna kuning. Dalam hal ini, korban terindikasi hanya mengalami luka sedang.
  4. Korban masih bisa berdiri, respon masih baik namun tidak segera bergerak, diberikan label warna Hijau dengan indikasi hanya mengalami luka ringan.

Sesuai urutan dalam proses evakuasi, korban yang diprioritaskan untuk segera mendapatkan pertolongan adalah label Merah, Kuning, Hijau dan yang terakhir Hitam.

 

 

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan